romantic love
Minggu, 11 Oktober 2015
ibu buta yang memalukan
Kisah Mengharukan: “Ibu Buta Yang Memalukanku”
21 Desember 2012 pukul 21:20
"Terkadang Kita Tak Merasa Memiliki Sesuatu Sampai Kita Benar2 Kehilangan"
Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar
Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.
Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.
Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku. “Mau ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hai, itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya?” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu.
Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan rumah kumuhku dan terutama meninggalkan ibuku yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu mnghalangi kemajuanku.
Di Selolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis Indonesia dan menetap di Singapura.
Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.
10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis dan sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.
Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.
Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku mengatakan: “HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF, SAYA SALAH ALAMAT”
Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam rumah.
Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.
Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.
Selesai Reuni entah megapa aku ingin melihat keadaan rumahku sebelum pulang ke Sigapore. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.
Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”
“OH…”
Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal. “Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”
Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.
Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku yang kucintai aku tahu kau sangat membenciku. Tapi Ibu senang sekali waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni disekolahmu.
Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi. karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni tersebut.
Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam Aku hanya bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya yang ibu punya.Ibu tak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan melihat dunia luas.
Asal kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu salah satunya adalah mataku yang selalu membuatmu malu.
Mataku yang kuberikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.
Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.
Saat aku menulis surat ini, aku masih berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut sudah di depan mataku.
Peluk cium dari Ibumu tercinta
Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku sendiri….
--------------------------------------
Mudah-mudahan kia dan anak-anak kita kelak tidak seperti tokoh yang ada dalam kisah mengharukan ibu dan anak diatas. Sejelek-jeleknya orang tua kita, maka kita wajib untuk mencintainya, menyayanginya, menghormatinya.
Tulus Cinta Untuk Ibu Dan Bapak.
Aku Mencintaimu Karena Allah.....
I LOVE YOU MOM ..
isah Mengharukan:
Cinta Seorang Ibu
Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.
Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"
Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.
Pesan Cerita :
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.
Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.
Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
Minggu, 04 Oktober 2015
meninggal di usia 54 tahun dengan bergandengan tangan.
Cinta sehidup semati ternyata tak sekadar bualan belaka. Ada pasangan yang tetap mempertahankan hubungannya hingga maut memisahkan. Cinta sejati pada akhirnya adalah cinta yang akan semakin kuat seiring perjalanan waktu.
Ana Maria Chavez dan Domingo Chavez, keduanya pertama kali bertemu di Blue Moon Dance, Pharr, Texas tahun 1958. Dikutip dari laman dailymail.co.uk, keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan sama-sama suka berdansa. Hubungan cinta pun berlanjut, tahun 1961 akhirnya mereka menikah. TAG
#Promo Hari Ini
#Life Hack
#Diet Cepat
#Kisah Cinta
#Memutihkan Kulit
HOME » RELATIONSHIP » LOVE
54 Tahun Menikah, Pasangan Ini Meninggal dengan Bergandengan Tangan
Jum'at, 02 Oktober 2015 11:00
Editor: Endah Wijayanti
0
0
Share
0
Tweet
Foto: copyright dailymail.co.uk
Vemale.com - Cinta sehidup semati ternyata tak sekadar bualan belaka. Ada pasangan yang tetap mempertahankan hubungannya hingga maut memisahkan. Cinta sejati pada akhirnya adalah cinta yang akan semakin kuat seiring perjalanan waktu.
Ana Maria Chavez dan Domingo Chavez, keduanya pertama kali bertemu di Blue Moon Dance, Pharr, Texas tahun 1958. Dikutip dari laman dailymail.co.uk, keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan sama-sama suka berdansa. Hubungan cinta pun berlanjut, tahun 1961 akhirnya mereka menikah.
Lebih dari lima dekade lamanya menjalin rumah tangga, Ana dan Domingo kini dikaruniai 8 anak, 30 cucu, dan 32 cicit. Wah, tak terbayangkan rasa bahagia yang mereka miliki dengan dikelilingi banyak orang yang menyayangi mereka, ya.
Namun, kita tak pernah bisa menebak pasti usia yang dimiliki seseorang. Akhir bulan September lalu, Ana dan Domingo harus berpulang. Keduanya meninggal dunia di Caldwell, Idaho dengan jeda beberapa jam saja. Dan yang paling mengharukan, saat meninggal, keduanya masih bergandengan tangan. Mereka benar-benar tak mau berpisah, ya Ladies.
Ana pertama kali didiagnosis menderita demensia tahun 2006 lalu. tak lama kemudian, Domingo didiagnosis penyakit yang sama. Saat kondisi keduanya makin memburuk, anak sulung mereka Freddie Chavez membawa mereka ke rumahnya. Dokter pun mengatakan kalau yang bisa dilakukan saat itu hanya pasrah karena usaha maksimal sudah dilakukan.
Dibawa pulang ke rumah, tempat tidur Ana dan Domingo dibuat bersebelahan. Saat akhirnya Ana meninggal dunia dengan masih menggenggam tangan Domingo, kesedihan mendalam dirasakan oleh Domingo. "Ayah sangat sedih. Jelas terlihat bahwa ia amat sangat sedih," kata Freddie. Beberapa jam setelah kematian Ana, Domingo juga meninggal.
seoarang kakek yg membelah gunung demi istri yang telah meninggal
. Membelah gunung demi istri yang meninggal
Dashrath Manjhi
Dashrath Manjhi
Ketika istrinya meninggal pada tahun 1959 karena jarak rumah sakit terlalu jauh dari desanya, sang suami yang bernama Dashrath Manjhi bersumpah akan membelah gunung yang menjadi pemisah. Manjhi tidak akan membiarkan orang lain kehilangan orang yang mereka cintai karena alasan yang sama. Sejak saat itu, selama 22 tahun tanpa henti, setiap hari Manjhi membelah batu-batu gunung hingga membentuk jalan sepanjang 122 meter dengan luas 9 meter. Berkat Manjhi, jarak menuju rumah sakit yang dulunya sekitar 70 km kini hanya menjadi 1 km. Manjhi meninggal pada tahun 2007 dan akan dikenang dalam sejarah sebagai orang pertama yang berhasil membelah gunung seorang diri.
Minggu, 27 September 2015
kesetiaan seorang pria
Ada sepasang pasangan yang sudah 4 bulan bertunangan. Tetapi awal bulan mei sifat si wanita sudah mulai berubah (karna orang ke 2), si pria sudah mulai menyadarinya tetapi hanya berdiam dan tersenyum. (^_^)
Tgl 15 mei.
Saat malam mereka pergi ke sebuah restaurand sang pria bertanya : "Apa ada sesuatu yang membuat kamu bosen sama aku...???" Wanita menjawab "Nggak ada" Si pria pun berusaha percaya dan tidak berfikir negatif.
Tgl 16 mei (anniversary 5 month).
Si pria menelpon tunangannya, hingga total 35 panggilan tak terjawab, lalu sang pria mengirim BBM-an "Aku tunggu kamu jam 7 di tempat biasa, kalo udah jalan hubungin aku...!!!" Si pria terus menunggu dan yakin bahwa tunangannya akan datang, di saat itu hujan sangat besar, sang pria terus berusaha berfikir positif dan yakin tunangannya akan datang.
Tgl 17 mei pukul 00.10.
Si wanita baru membalas BBM-an tunangannya "Aku nggak bisa datang, ada acara keluarga, maaf ya aku baru balas. tadi nggak ada pulsa...!!!" *(padahal dia hang out breng orang ke 2.)*
Tgl 17 mei pukul 14.15.
Sesudah pulang setelah jalan bersama orang ke 2 si wanita bermaksud datang ke rumah tunangannya agar tunangannya nggak marah karena sejak malam sang pria tidak menghubungi dia.
Si wanita langsung pergi ke rumah tunangannya, dia melihat tunangannya sudah tertidur di atas kain putih dengan cincin pertunangan mereka diatas dada sang pria. Keluarga tunangannya memberikan HP tunangannya untuk di lihat oleh si wanita...!!! Betapa kagetnya si wanita ketika melihat tunangannya.
Sebelum tunangannya meninggal, Dia sempat mem video kan lilin yang bertebaran di pantai yang sudah mulai padam karna air hujan. Pada saat itu si pria sudah menyiapkan tiket penerbangan untuk bulan madunya nanti jika mereka berdua sudah menikah dan juga kejutan yang sangat indah.
Nasib berkata lain, Sang pria bertabrakan dengan mobil truk saat pulang dari restaurand malam itu. Sang pria jatuh tersungkur ke aspal kepalanya membentur trotoar dan mengalami pendarahan otak sehingga tidak bisa di selamatkan.
Langganan:
Komentar (Atom)